Mental Korup, Keburukan yang Tidak Disadari

Korupsi dewasa ini dipahami sebagai suatu bentuk kerugian atas materil saja, terutama uang negara. Padahal sebenarnya korupsi itu lebih luas daripada itu.

Korupsi Menggulung Reformasi

Mental korup bisa meruntuhkan negara.

Mental korup, sebuah cerita masa lalu

Saat saya masih SMA kelas satu, saya pernah menerima undangan pernikahan tetangga kakek. Saya memang kenal seluruh keluarga si mempelai, makanya saya diundang. Memang agak berlebihan sih, satu rumah diberi tiga undangan. Entahlah, tapi bukan itu yang mau saya bahas. Sudah menjadi hal yang seharusnya jika memenuhi undangan, apalagi jika bertemu dengan kawan-kawan liburan masa kecil, tentu akan sangat menyenangkan. Saking senangnya hingga lupa berada di mana dan momennya apa.

Saya terus mengobrol dengan kawan-kawan, sambil menyantap apa saja yang ada disana. Bukan dalam rangka nyari ganti uang amplop lho ya, karena undangannya itu full free. Si empunya hajatan adalah salah satu orang terkaya di desa itu dan para undangan tidak boleh membawa apapun sebagai hadiah. Saking asyiknya, saya dan kawan-kawan bahkan lupa kalo itu di pesta pernikahan orang. Sampai pada akhirnya kakek menepuk punggung saya dan mengatakan, “cobalah bijak, lihat kamu ada dimana, jangan sampai aku punya cucu seorang koruptor,” sambil tersenyum dan melenggang begitu saja.

Beberapa detik saya seperti shock, terdiam mencerna teguran kakek saya. Akhirnya saya menyadari apa yang saya lakukan bersama teman-teman adalah salah. Saya merasa malu, di tengah-tengah pesta yang merupakan kepentingan si empunya rumah, saya justru mengabaikan acaranya dan “membuat acara sendiri” bersama teman-teman saya. Secara tidak sadar, saya telah korupsi. Saya menggunakan waktu, tempat dan hidangan milik si empunya pesta untuk kepentingan saya dan kelompok saya. Sebuah tindakan yang memalukan!

Mental korup, saya menemukannya kembali

Di masa kini, dimana korupsi digalakkan untuk diberantas, ternyata saya menemukan mental korup tidak hanya dilakukan oleh para pejabat, tapi juga generasi muda. Meskipun mereka melakukannya tanpa sadar dan terbilang kecil, tetapi itu tetaplah sebuah mental korup yang menggiring mereka untuk berbuat korupsi lebih besar lagi. Paling tidak, dalam sebuah cerita dibawah ini, anda akan menemukan hal yang mirip dengan apa yang saya alami 12 tahun yang lalu.

Suatu ketika kami, terdiri dari banyak orang yang memiliki hobi yang sama, diundang oleh seorang pejabat negara. Undangannya berupa diskusi dan makan siang bersama. Ternyata, beberapa dari kenalan saya itu tidak menyukai pejabat tersebut atau tidak memiliki ketertarikan kepadanya. Pada saat acara berlangsung, mereka justru membuat acara sendiri di belakang. Berdiskusi satu sama lain tanpa memperhatikan acara yang sedang berlangsung. Lebih parahnya lagi, saat makan siang tiba, mereka pun ikut menyantap hidangan yang ada.

Dejavu? Ya, saya pernah mengalaminya, seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Namun kali ini bukan saya pelakunya. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, setidaknya saya berusaha keras untuk itu. Tindakan ini ternyata tidak mereka sadari sebagai sebuah korupsi, bahkan mereka bangga melakukannya. Sebuah pertanyaan besar ada di kepala saya, apakah mereka tak pernah mencari tahu yang benar dan yang salah?

Oke, mungkin itu bukan urusan saya. Biarkanlah itu menjadi urusan mereka dan Tuhan. Disini saya hanya menunjukkan bahwa hal tersebut adalah sebuah kesalahan. Hanya itu, tak ada yang lain. Semoga anda bisa mengambil hikmah dari cerita ini. Jangan lihat siapa yang bercerita, namun lihatlah esensinya. Salam kebenaran!

Artikel ini diterbitkan pada

Seorang yang percaya hari akhir dan mencari Tuhan melalui ilmu pengetahuan. Mengerti PHP, Wordpress dan Linux. Namun masih saja menggunakan Windows 10 sebagai sistem operasi utama. Mau tanya apa saja atau bahkan curhat sama penulis ini, hubungi saja melalui formulir kontak disini. Pasti dibalas, kok!

Kirim pendapat

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Hanya Lewat. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.