Remaja Butuh Bimbingan Mengendalikan Stres

Banyak dari kita mengetahui bahwa remaja seringkali mengeluh, entah itu di Facebook atau di Twitter. Sepertinya mereka mendramatisir kesulitan yang mereka alami.

Remaja itu mudah stress, belum bisa mengendalikan banyak masalah.

Remaja itu mudah stress, belum bisa mengendalikan banyak masalah.

Seorang teman pernah mengatakan bahwa para remaja alay seolah hidup mereka sangat keras dan menderita meskipun mereka tidak berurusan dengan hal pelik seperti pekerjaan atau hutang. Namun ternyata ada alasan kenapa remaja begitu cengeng menghadapi masalah mereka, padahal masalah tersebut relatif ringan dan sangat sederhana, namun mereka merasa stres sekali. Ternyata ini ada hubungannya dengan masalah perhitungan resiko atas tindakan yang kami bahas kemarin.

Bagian otak manusia yang membuat anda berhenti dan menyadari telah melakukan hal yang salah itu bernama prefrontal cortex. Bagian ini mengatur pengambilan keputusan dan membantu anda mengatur impuls. Misalnya saja ketika anda patah hati, ada tekanan emosional yang membuat dia melakukan tindakan bodoh, misalnya meneror mantan atau bahkan bunuh diri, tergantung dari kepribadian anda. Semua hal tersebut dapat merugikan diri anda, maka dari itulah prefrontal cortex menghentikan anda dan membuat anda berpikir panjang dan menimbang kembali perbuatan yang menghasilkan kepuasan singkat itu.

Seorang pelajar membunuh ayah temannya karena terinspirasi komik yang dikoleksinya.
Kompas 8/11/2012

Jika ada polisi yang menangkap atau mengamankan orang dewasa yang melakukan tindakan bodoh yang dibahas diatas, kemungkinan besar ia dalam keadaan mabuk. Alkohol memang membuat prefrontal cortex menjadi kacau atau bahkan tidak berfungsi, begitu pula dengan narkoba. Namun di otak remaja, bagian ini masih berkembang sehingga belum sempurna. Oleh karena itulah remaja sangat sensitif terhadap stress. Untuk membuktikannya, anda dapat melakukan pemindaian otak remaja dan menemukan bagian prefrontal cortex tidak beraktivitas. Dan itulah sebabnya remaja tidak bisa secara akurat mempertimbangkan resiko yang akan dihadapinya.

Jadi, lain kali jika ada remaja yang tawuran, jelas bahwa masalahnya bukan ada pada remaja tersebut sepenuhnya, namun pada lingkungannya. Menciptakan lingkungan yang kondusif yang bebas tekanan dapat mengurangi stres remaja. Maka dari itu sebenarnya adalah peran orangtua dan guru untuk membentuk remaja seperti apa. bagaimana menurut pendapat anda?

Artikel ini diterbitkan pada

Seorang yang percaya hari akhir dan mencari Tuhan melalui ilmu pengetahuan. Mengerti PHP, Wordpress dan Linux. Namun masih saja menggunakan Windows 10 sebagai sistem operasi utama. Mau tanya apa saja atau bahkan curhat sama penulis ini, hubungi saja melalui formulir kontak disini. Pasti dibalas, kok!

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. erida aja:

    dilingkungan saya ada remaja, anak-anak tidak suka belajar dan ingin main saja walaupun ada belajar gratis. bagaimana cara mengatasinya ya/solusinya?

    • Iwan Restiono:

      Tiap usia solusinya bisa beda-beda. Secara umum, bisa dicoba dengan pembelajaran yang lebih atraktif, supaya mereka tidak bosan. Remaja itu mudah bosan, tidak bisa dikurung di satu tempat dalam waktu yang lama. 🙂

Kirim pendapat

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Hanya Lewat. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.