Bagaimana Jika Semua Gunung Meletus?

Gunung memiliki kekuatan yang dahsyat. Hingga saat ini tidak ada teknologi yang bisa menghentikan letusan gunung. Satu gunung meletus saja sudah dahsyat akibatnya. Bagaimana jika semua gunung di muka bumi ini meletus?

Letusan Merapi 2010

Letusan Merapi 2010. Image by Traveell.

Saat ini ada kurang lebih 1500 gunung di seluruh daratan. Jumlah ini belum termasuk gunung bawah laut yang tidak bisa kita lihat dengan kasat mata. Bayangkan semua gunung tersebut meletus secara bersamaan. Kira-kira apa yang terjadi?

Selalu ada gunung meletus tiap hari

Setiap hari, ada 10-20 gunung meletus di suatu tempat di muka bumi ini. Meskipun begitu, para ilmuwan berpendapat bahwa kemungkinan seluruh gunung meletus adalah kecil bahkan mendekati tidak mungkin. Tetapi diakui bahwa hal tersebut bukanlah mutlak tidak mungkin.

Pakar geologi dari Radford University di Virginia, Parv Sethi mengatakan bahwa jika kemungkinan kecil tersebut terjadi, maka akan memicu efek domino pada lingkungan kita berkali lipat lebih dahsyat daripada awan nuklir. Segala sesuatu akan menjadi buruk sekali, sehingga kita akan berharap tak hidup pada saat itu.

Dua hal yang sangat menakutkan dalam peristiwa meletusnya gunung adalah abu dan gas vulkanik. Memang hal seperti lava pijar, lahar ataupun awan piroklastik dapat menyebabkan kematian, namun jumlahnya tidak terlalu besar dibandingkan hal-hal lainnya. Ini karena ketiga hal tersebut masih bisa dihindari oleh manusia dengan mengusi ke tempat lainnya. Namun tetap ada hal yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia, yakni atmosfer.

Kegelapan total mengguncang ekosistem

Kegelapan total akibat debu dari seluruh gunung yang meletus akan naik ke atmosfer dan memblokir sinar matahari. Bumi akan mengalami kegelapan total. Memang tidak semua gunung meletus mengeluarkan abu vulkanik, seperti misalnya gunung Kilauea di Hawaii. Namun menunut survey yang dilakukan oleh USGS, kurang lebih 1500 gunung mengeluarkan debu vulkanik jika meletus.

Masyarakat yang tinggal di Jogja pernah merasakan betapa dahsyatnya debu vulkanik itu. Tahun 2010 gunung Merapi meletus, meskipun tak seberapa, awan berisi abu vulkanik terjadi selama beberapa waktu. Yang lebih dahsyat adalah meletusnya gunung Kelud awal tahun 2014 lalu, Jogja yang sedemikian jauhnya justru mendapatkan abu paling banyak. Langit gelap menyelimuti Jogja lebih dari 24 jam saat itu.

Bagaimana jika kegelapan itu terjadi selama lebih dari 10 tahun? Itulah waktu yang diperkirakan berlangsungnya kegelapan oleh abu vulkanik. Suhu di bumi akan sangat dingin, tanaman akan mati karena tidak bisa berfotosintesis (masih inget pelajaran SD, kan?) dan apa kabar manusia? Manusia terakhir yang selamat dari gunung meletus dan kedinginan mungkin akan mati kelaparan.

Hujan asam melakukan pemusnahan

Hujan asam akan memastikan semua tanaman akan mati, termasuk juga makhluk hidup yang ada di permukaan bumi seperti manusia dan binatang. Hal ini terjadi karena banyak gas beracun seperti asam hidroklorik, hidrogen fluorida, hidrogen sulfida dan sulfur dioksida kemudian mengembun di ketinggian atmosfer bumi. Apa yang naik, sudah pasti akan turun. Itulah hukum alam, maka terjadilah hujan asam.

Para ilmuwan telah mendokumentasikan hubungan antara hal semacam ini dengan kepunahan massal di masa lalu. Kepunahan massal akibat berubahnya struktur atmosfer pernah terjadi pada akhir masa Permian (252 juta tahun lalu), akhir masa Triassic (201 juta tahun lalu) dan masa yang paling dekat yakni Cretaceous (65 juta tahun lalu). Masa terakhir inilah yang “katanya” merupakan masa sebelum manusia.

Karbondioksida, mengubah bumi menjadi oven

Setelah abu dan asam turun ke daratan, atmosfer akan bersih. Namun setelah semua ini, kamu berpikir semua akan selesai? Tidak, sama sekali tidak. Jangan melupakan peran CO2 disini. Gas ini dilepaskan cukup banyak saat semua gunung meletus. Saat kita diselimuti abu, gas ini membantu koreksi suhu sehingga tidak terlalu dingin. Tetapi saat semua abu turun, tiba-tiba gas ini menjadi musuh yang berbahaya.

Jumlahnya yang sangat besar di atmosfer bisa membuat bumi sangat panas. Hal ini pernah terjadi pada masa Cretaceous, 90-65 juta tahun lalu. Saat itu menurut para ahli, jumlah karbon dioksida di atmosfer mencapai 2,5 kali lipat dibanding masa sekarang. Dengan keadaan seperti itu, secara literal, bumi seperti menjadi oven bagi makhluk yang ada diatasnya.

Semua hal diatas tidak perlu membuat kita takut, toh kalaupun terjadi, matinya juga bareng-bareng kan? Hehe. Satu yang pasti dari hal diatas adalah yang namanya KIAMAT itu MUDAH dan PASTI terjadi. Hanya dengan gunung saja sudah bisa menjadi kiamat kubra. Padahal masih banyak hal yang lainnya di alam semesta yang dapat dijadikan Allah sebagai penyebab kiamat kubra.

Dan jika begitu adanya, masihkah kamu berjalan di muka bumi ini dengan menegakkan kepala dengan angkuhnya? Kalau saya jelas tidak. 🙂

Artikel ini diterbitkan pada

Seorang yang percaya hari akhir dan mencari Tuhan melalui ilmu pengetahuan. Mengerti PHP, Wordpress dan Linux. Namun masih saja menggunakan Windows 10 sebagai sistem operasi utama. Mau tanya apa saja atau bahkan curhat sama penulis ini, hubungi saja melalui formulir kontak disini. Pasti dibalas, kok!

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. nuzulul:

    Kondisi yg demikian suatu saat pasti terjadi.
    Sebagaimana Al-Qur’an menyatakan.

  2. tisya:

    Subhanallah, semua adalah rahasia Allah SWT

Kirim pendapat

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Hanya Lewat. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.