Mitos Digunakan Untuk Mengontrol Masyarakat

Saat membaca judul diatas, apa yang terpikir di benak anda? Teori konsipirasi? Jangan paranoid, sesungguhnya tidak ada konspirasi semacam ini. Kalimat dalam judul diatas merupakan bagian dari fundamental proses budaya manusia terbentuk.

Wayang adalah salah satu media menyampaikan mitos.

Wayang adalah salah satu media menyampaikan mitos.

Sekarang mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, kenapa kita suka membaca komik atau menonton film tentang pahlawan super? Padahal kita sudah tahu secara pasti siapa yang akan menang. Bagaimanapun cerita tentang kepahlawanan sudah ada sejak jaman dahulu kala, bahkan saat tulisan belum diciptakan.

Sejarah terciptanya cerita atau mitologi

Ribuan tahun lalu, saat nenek moyang kita hidup dalam suku-suku yang berbeda, tidak banyak yang tahu bagaimana membaca. Bahkan meskipun mereka bisa, kertas bukanlah hal yang lumrah ditemui, sedangkan perkamen, kulit binatang dan batu adalah sesuatu yang langka dan berharga. Mereka tidak memiliki catatan sejarah yang tertulis, sehingga mereka tidak memiliki sistem yang dapat mengajarkan sejarah kepada keturunannya.

Hal bisa menjadi masalah karena sejak manusia membentuk masyarakat, para pemimpin tidak menginginkan generasi selanjutnya hanya bisa berburu dan menangkap ikan, namun mereka membutuhkan masyarakat yang patuh pada satu tujuan dan rela mengorbankan dirinya demi orang banyak. Hal ini berarti bahwa anak-anak harus mengerti gambaran besar tentang kenapa melayani kepentingan suku itu lebih bernilai.

Anak-anak harus diberi pengertian kenapa mereka harus membenci suku di seberang sungai, kenapa suku mereka lebih baik dari suku di seberang sungai itu dan juga kesediaan untuk berperang jika ada peperangan bagaimanapun takutnya anak-anak itu.

Sekarang, untuk membuat hal diatas terwujud, kita bisa melakukan hal ini:

  • Membuat bosan anak-anak dengan cerita sejarah yang panjang sekali dimana tidak ada satupun orang yang pernah menulisnya, atau…
  • Menceritakan kepada mereka sebuah cerita yang keren. Ceritakan saja tentang seseorang yang pernah hidup bertahun-tahun lalu, dimana ia dengan gagah berani membela sukunya ketika diserbu suku tetangga.

Sangat jelas bahwa cara kedua adalah yang paling berkesan di pikiran anak-anak. Katakanlah, sehabis menonton film Iron Man, berapa banyak anak-anak yang tidak ingin menjadi Iron Man? Tidak menjadi masalah apakah cerita itu fiksi atau hanya dibesar-besarkan, tetap saja akan membuat anak-anak termotivasi untuk menjadi seperti tokoh dalam cerita tersebut, seseorang yang bersikap sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Terlihat seperti sebuah kebohongan? Sebenarnya ini tidak sepenuhnya seperti itu. Suku mereka mungkin memang lebih baik dari suku di seberang sungai, sejarah asli mereka mungkin memang penuh dengan pahlawan yang mengorbankan diri untuk kepentingan kelompok. Para pencerita sebenarnya tidak menceritakan versi fiksi karena mereka pembohong, mereka melakukannya itu hanya untuk menjaga “kebenaran” tetap bertahan.

Cerita atau mitologi dibuat sebagai jalan untuk mendidik bagaimana anda bersikap.
Joseph Campbell, Function of Myth

Mitos yang dewasa ini diartikan sebagai “kebohongan yang perlu dibantah”, namun sebenarnya merupakan cara yang efisien untuk menceritakan kebenaran. Mitos lebih mudah diingat dan tidak membutuhkan waktu panjang untuk menceritakannya, dengan mengiliminasi bagian-bagian yang mengacaukan poin cerita tersebut. Dan yang paling terpenting, ceritanya tidak membuat pendengarnya merasa bosan.

Mitos untuk mengontrol sikap masyarakat

Pada intinya, cerita diciptakan untuk membentuk otak kita dengan cara tertentu. Ini saya temukan di buku yang sama dengan kutipan diatas, yakni Functions of Myth karya Joseph Campbell. Pada dasarnya mitos menggambarkan seorang pahlawan adalah mereka yang mengorbankan dirinya untuk “kebaikan yang lebih besar” bagi masyarakat.

Anda pasti ingat cerita Panglima Besar Jenderal Sudirman, yang dalam keadaan sakit parah dan harus ditandu namun memimpin perang gerilya melawan agresi militer Belanda. Ini beliau lakukan supaya pasukan Indonesia tidak kehilangan semangat. Pengorbanan seperti itu pasti tampak keren di mata kita, terlepas itu fiksi atau kenyataan. Hal semacam inilah yang membuat peradaban terus berjalan. Manusia, bangunan, jalan dan jembatan adalah perangkat keras dalam masyarakat, sedangkan mitologi adalah perangkat lunaknya.

Kita memiliki Jenderal Sudirman, Maha Patih Gajahmada, Pangeran Diponegoro, Gatotkaca, hingga cerita-cerita impor dari negeri seberang. Terlepas dari apakah mereka tokoh sebenarnya atau hanya tokoh fiksi, namun cerita mereka dapat membentuk pola pikir kita untuk lebih mau berkorban dan menjadi anggota masyarakat yang “sesuai”. Bagaimana menurut pendapat anda?

Artikel ini diterbitkan pada

Seorang yang percaya hari akhir dan mencari Tuhan melalui ilmu pengetahuan. Mengerti PHP, Wordpress dan Linux. Namun masih saja menggunakan Windows 10 sebagai sistem operasi utama. Mau tanya apa saja atau bahkan curhat sama penulis ini, hubungi saja melalui formulir kontak disini. Pasti dibalas, kok!

Ada 4 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Aryan:

    Dulu pernah jadi pendengar saat para orang tua memperbincangkan nenek moyangnya masing2 :mrgreen: intinya hampir sama lah 🙂

  2. Syahrul Amani:

    Ini benar banget. Apalagi ini belum diketahui semua orang. pasti bermanfaat bagi yang membaca

  3. ikha:

    terimakasih, lumayan bisa nambah referensi 😀

Kirim pendapat

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Hanya Lewat. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.